Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, tampilan cake dan juga interior tempat menjadi pertimbangan konsumen cake shop dalam memilih cake selain dari rasanya. Semakin lucu dan unik tampilan cakenya, maka akan semakin
banyak orang yang tertarik mencobanya. Cake-A-Boo adalah salah satu
cake shop yang memiliki 3 hal tersebut.
Breadlife
Indonesia memang bukan pemain baru dalam bisnis roti dan bakery. Sejak beberapa
tahun terakhir, Breadlife yang telah memiliki lebih dari 50 cabang ini
menghadirkan aneka varian roti, cake dan pastry yang terbuat dari
bahan-bahan premium.
Sebagai jaringan artisan bakery, Breadlife mengusung konsep ala Jepang
dan menghadirkan
open kitchen di setiap storenya agar pengunjung dapat melihat proses pembuatan roti Breadlife yang higienis dan tanpa bahan kimia/pengawet.
Mandarin
Oriental Cake Shop merupakan salah satu cake shop yang terbaik di
Jakarta. Kelezatan signature cake mereka yakni American Chocolate Cake
yang terbuat dari cake coklat dengan lapisan chocolate cream dan ganache
coklat di atasnya
sudah tidak diragukan lagi. Sejak pertama kali diperkenalkan lebih dari
3 dekade yang lalu, cake ini masih menjadi cake yang paling diminati
oleh pengunjung. Begitu pula saat demam Cronut melanda New York
beberapa waktu yang lalu. Mandarin Oriental Cake Shop
menjadi Cake Shop pertama di Jakarta yang meluncurkan produk serupa.
Meskipun pada akhirnya Cronut juga dibuat di tempat lain, namun menuut
saya Cronut Mandarin Oriental adalah salah satu yang terlezat yang
pernah saya coba.
Huize Van Wely merupakan restoran semi fine dining
yang terletak di kawasan selatan Jakarta sejak beberapa tahun silam. Restoran
ini terletak pada gedung kaca Le Papilion yang indah, khususnya pada saat malam
hari. Selain karena hidangannya yang lezat, Huize Van Wely juga terkenal akan
kelezatan coklatnya yang diimpor langsung dari Belanda. Beraneka produk olahan coklat seperti praline, biskuit, coklat keping tersedia di Huize Van Wely dengan berbagai pilihan rasa.
Huize van Wely berada di lantai dasar Gedung Le
Papilion. Saya menyukai atmosfernya yang bersih, sleek dan elegan. Pada hari biasa, tidak banyak pernak-pernik dekorasi untuk melengkapi interiornya. Namun kali itu, The Papilion dipercantik dengan aneka dekorasi khas natal yang ditata sangat apik. Tidak terkecuali Gingerbread house yang berukuran cukup besar.
Sejak bulan Oktober yang lalu, Huize Van Wely
memiliki buffet lunch promo yang berlangsung setiap hari Rabu siang. Menu
buffetnya juga berbeda di setiap minggunya, antara masakan Indonesia, western
atau jepang yang diolah khusus oleh masing-masing chef ahli. Kala itu, saya
berkesempatan mencoba Indonesian buffet ala Huize Van Wely.
Green tea adalah minuman yang saya pilih untuk menemani santap siang saya kali itu. Surprisingly, teh hijau yang digunakan Huize Van Wely merupakan teh hijau yang berbeda dari yang saya pernah coba selama ini. Tehnya sarat dengan aroma yang super wangi dan menenangkan. No sugar needed because it’s already tasty!
Complimentary Breads dari Huize Van Wely ini patut
diacungi jempol. Rotinya memiliki tekstur yang saya suka. Renyah di bagian luar
dan lembut di bagian dalam dengan aroma yang wangi. Belum lagi tambahan butter
yang menjadikan roti hangat ini gurih dengan sensasi melt-in-your-mouth.
Asinan Jakarta & Trancam
Asinan Jakarta & Trancam
Sebagai hidangan appetizer, Asinan Jakarta dan
Trancam merupakan kedua menu yang dapat dipilih oleh pengunjung. Asinan
Jakartanya cukup lengkap, ada asinan sayur, adapula asinan buah mangga yang
bercitarasa asam dan segar. Jangan lupakan juga kerupuk asinan yang seringkali
menjadi cemilan favorit banyak orang.
Trancam sendiri dipilih karena karakternya yang
mirip salad, menggunakan sayuran mentah sehingga terasa lebih ringan dengan
tekstur renyah khas sayuran segar. Isiannya terdiri dari tauge, irisan sawi
putih dan daun kemangi yang ditaburi oleh kelapa parut untuk memberikan rasa
gurih.
Sop Buntut
Sop Buntut
Sup Buntut dari Huize Van Wely memiliki kuah bening
yang tidak terlalu berminyak. Begitu pula daging buntut yang digunakan.
Potongannya juga dibuat lebih kecil sehingga kita tidak kesulitan untuk
memakannya. Dagingnya empuk dan gurih dengan bumbu yang meresap. Potongan dadu
kentang dan juga irisan tomat memberikan aksen rasa segar terhadap sup buntut.
Kuah kaldunya juga pas, tidak terlalu pekat sehingga kelezatan daging buntutnya
lah yang menonjol di masakan yang menjadi salah satu hidangan klasik khas
Indonesia ini.
Dory Acar Kuning
Dory Acar Kuning
Jika biasanya ikan acar kuning yang dipakai adalah ikan mas, nila atau kembung, maka di Huize Van Wely yang digunakan adalah ikan dory. Tadinya saya sempat sangsi apakah ikan dory dengan tekstur yang lembut ini cocok diolah menjadi ikan acar kuning. Ternyata rasanya tidak kalah lezat.
Potongan fillet dory yang tebal ini dilapisi tepung
dan digoreng dahulu sebelum akhirnya dimasak dalam bumbu acar kuning yang khas
gurih dan segarnya. Irisan wortel dan kentangnya juga pas tingkat
kematangannya. Recommended!
Ayam Sambal Matah
Ayam Sambal Matah
Ayam sambal matah yang merupakan makanan tradisional
khas Bali ini juga merupakan salah satu makanan favorit saya. Suwiran daging
ayam goreng dipadu dengan sambal matah yang terbuat dari campuran bawang, cabe,
minyak dan sedikit terasi ini sungguh menggugah selera makan. Cocok sekali
disantap sebagai lauk dari nasi putih yang hangat.
Urap
Untuk varian sayuran, Huize van Wely menyediakan urap. Urap yang merupakan sayuran tradisional khas Indonesia ini terdiri dari kacang panjang, tauge, irisan wortel, bayam yang dibumbui dengan parutan kelapa. Biasanya pada urap, sayuran yang digunakan telah dimatangkan dulu sebelum dicampur dan disajikan.
Gulai Kambing
Urap
Untuk varian sayuran, Huize van Wely menyediakan urap. Urap yang merupakan sayuran tradisional khas Indonesia ini terdiri dari kacang panjang, tauge, irisan wortel, bayam yang dibumbui dengan parutan kelapa. Biasanya pada urap, sayuran yang digunakan telah dimatangkan dulu sebelum dicampur dan disajikan.
Gulai Kambing
Saya menjadi agak pemilih jika harus menyantap
kambing. Saya tidak suka dengan aroma prengusnya yang khas atau daging yang
terkadang agak keras. Tapi kali ini saya mengakui, gulai kambing Huize Van Wely
merupakan hidangan yang patut dicoba jika bertandang kesini. Dagingnya sangat
empuk dengan kuah kental yang rich dan sarat dengan citarasa Indonesia yang
menggunakan banyak rempah-rempah dan juga santan.
Menikmati Buffet lunch tentunya juga harus ditutup
dengan sesuatu yang manis seperti buah dan dessert. Di Huize Van Wely, kita
dapat menikmati deretan cake dan mini dessert andalannya yang cukup variatif. Yang
menjadi highlight siang itu adalah kue soesnya. Meskipun tampak sederhana, tapi
kue soes (choux cream) Huize van Wely memiliki tekstur yang saya suka. Puffnya tidak terlalu
renyah dengan rasa krim vanilla yang creamy dan tidak terlalu manis. Love it!
Selain itu saya juga mencoba beberapa varian praline dan coklat impornya. Cocos yang merupakan choco ball berbalut kelapa dan Juur Blanc yang terbuat dari campuran pistachio dan coklat putih menjadi favorit saya siang itu.
Overall,
saya cukup terkesan dengan aneka hidangan yang disuguhkan Huize Van Wely.
Hampir seluruh rasa masakannya terasa lezat, meskipun masakan Indonesia bukan
merupakan spesialisasinya. Jika ingin mencoba hidangan dari Huize van Wely,
buffet lunch package ini terbilang worthed, mengingat harga menu ala carte dari
restoran ini juga tidak bisa terbilang murah. Belum lagi setelah menikmati menu
buffet, lidah masih akan dimanjakan oleh aneka dessert yang bisa dipilih sesuka
hati.
HUIZE VAN WELY
HUIZE VAN WELY
Jl. Kemang Raya No. 45AA Jakarta 12370
(021) 719 0789 / 1975
(021) 719 0789 / 1975
Bakerzin
memang bukan pendatang baru di Indonesia. Restoran besutan Daniel Tay,
seorang pastry chef asal Singapore ini memang menuai sukses di negara
asalnya, oleh karena itu pada tahun 2002 Bakerzin didatangkan ke
Indonesia untuk pertama
kalinya. Bakerzin mengusung konsep dessert café – casual dining yang
menyediakan aneka masakan dan juga cake & pastry yang terkenal
lezat.
Beberapa
waktu yang lalu, Bakerzin Plaza Senayan mengubah konsep restorannya
menjadi dessert bar yang juga sedang naik daun belakangan ini. Bersamaan
dengan event ini pula, Bakerzin sekaligus memperkenalkan 4 menu dessert
terbarunya yang
diciptakan khusus untuk Bakerzin dengan konsep terbarunya.
Dessert dan cake shop sepertinya merupakan salah satu tempat yang paling
diminati di Jakarta. Tengok saja TWG Cafe atau Collete &
Lola yang hampir tidak pernah sepi pengunjung dari pertama kali dibuka. Itu juga yang mungkin menginspirasi lahirnya Cacaote. Berlokasi di kawasan Senopati, tidak jauh dari Collete & Lola, Cacaote menempati sebuah bangunan yang besar dan cukup megah.
Satu lagi Cake Shop yang sedang daun di Jogja bernama Serafin. Seperti namanya, Serafin menjual berbagai pilihan coffee yang cukup beragam dan produk-produk pastisserie, mulai dari cake, muffin, macaroon, eclair, dan cupcake. Serafin ini telah membuka outletnya di Semarang lebih dahulu, sebelum akhirnya membuka cabangnya di Jogja.
Rainbow Cake (25K)
Rainbow Cake ini hanya terdiri dari lima lapis warna dan dipadu oleh vanilla buttercream dan diberi taburan meises warna-warni diatasnya. Tekstur cakenya kurang lembut dan rasanya sama untuk setiap layer cakenya. Buttercream frostingnya tidak 'berat' dan tidak terlalu manis.
Black Velvet Cake (25K)
Tidak banyak pilihan cake yang tersedia sore itu, tidak ada pula Hummingbird Cake yang jadi incaran saya. Jadi saya mencoba Black Velvet Cake yang terdiri dari 3 layer chocolate cake yang berwarna kemerahan dipadu dengan chocolate cream cheese frosting. Lapisan buttercream di setiap layernya cukup tebal, sedangkan tekstur cakenya padat dan tidak terlalu moist.
Chez Moi
merupakan salah satu cake shop yang belum lama buka di Yogyakarta. Saya mencoba
menyambangi salah satunya yang terletak di daerah Sagan. Tempatnya tidak
terlalu besar, terdapat dua area untuk tempat bersantap yakni indoor dan
outdoor. Di bagian indoor sendiri berkapasitas untuk 8 orang pengunjung,
sedangkan di bagian luar lebih luas lagi.
Tampaknya
cake coklat menjadi salah satu produk unggulan dari Chez Moi seperti Grand Cru
dan Chocolate Palace. Sayangnya, ketika
saya datang, Chocolate Palace Cake belum tersedia, sehingga pilihan saya jatuh
pada Grand Cru Chocolate Cake dan Mango Slice Cake. Jenis cake lain yang
tersedia di Chez Moi mulai dari Black Forest, Opera, Tiramisu, Red Velvet
sampai Rainbow Cake.
Grand Cru
Chocolate Cake (13K)
Cocok untuk
penyuka dark chocolate karena rasa dari Grand Cru ini didominasi oleh dark
chocolate yang memiliki karakteristik rasa bittersweet. Moussenya cukup lembut
dan begitu pula dengan lapisan sponge cakenya. Saya suka karena rasanya menjadi
tidak terlalu manis.
YukMakan kali ini berbaik hati mengikutsertakan saya ke acara food blogger gathering dan Ice Cream Blog Contest with Haagen Dazs yang bertempat di Haagen Dazs Plaza Indonesia. Acara gathering ini bertujuan untuk lebih memperkenalkan YukMakan kepada penikmat kuliner di Indonesia khususnya sekaligus memperkenalkan menu terbaru dari Haagen Dazs yaitu Sushi Ice Cream.
Varian menu terbaru dari Haagen Dazs ini merupakan inovasi dari Chef Lia yang mampu menyulap es krim berkualitas ala Haagen Dazs menjadi berbeda bentuk dari es krim-es krim lainnya. Satu porsi Sushi Ice Cream (88K++) ini terdiri dari 4 macam rasa yaitu Mango Salmon, Strawberry Gunkan, Raspberry Kani dan Kiwi Gunkan. Harga yang terbilang cukup mahal ini sepadan, mengingat proses pembuatan Sushi Ice Cream yang cukup rumit.
Kunjungan kali ini sekaligus menemani teman baik saya yang sedang datang jauh-jauh dari Banjarmasin. Tentu saja Red Velvet adalah incaran utama kami, apalagi bagi sebagian review orang yang saya baca, Red Velvet disini memiliki rasa yang cukup enak.
Bittersweet Corner terletak di salah satu pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Letaknya berada di ujung, nyaris tidak terlihat karena menjadi satu dengan toko furniture. Tempatnya cukup kecil dengan kapasitas kurang dari 20 pengunjung saja. Kami berdua memesan Red Velvet Cake dan Blue Velvet Cupcake.
Red Velvetnya berbentuk persegi panjang dengan satu lapisan cream di tengah dan bagian luar cake. Tekstur cakenya moist dan sangat padat. Rasa asam dari cream cheese frostingnya hampir tidak terasa, walaupun begitu kadar kemanisan pada frostingnya sudah pas. Hanya saja, saya tidak terlalu suka rasanya. Tidak ada yang dominan, sedikit rasa coklatnya masih bisa dirasakan, namun saya tidak bisa merasakan perpaduan rasa lain yang jelas. Red velvet Bittersweet Corner bukan selera saya.
Begitu pula dengan Blue Velvet Cupcakes. Teksturnya moist di bagian tengah cupcake namun agak kering di bagian luarnya. Frosting cream cheesenya lezat. Lebih terasa dan lebih wangi. Perpaduan asam dan manis frostingnya pas. Lagi lagi, blue velvet hanya menjadi cupcake vanilla biasa dengan tambahan pewarna makanan.
Saya penasaran pada beberapa varian tartnya yang kelihatan menggoda, tapi saya sudah kecewa dengan dua cake yang kami pesan. Lagipula menurut saya, harganya agak terlalu mahal untuk standar rasa (dan ukuran) yang seperti itu.
Bittersweet Corner
@bittersweetco
Plaza Indonesia Perennials Store Level 3 #E18
Jalan MH. Thamrin Kav 28-30
(021) 2992-3661
Jalan MH. Thamrin Kav 28-30
(021) 2992-3661
Diundang diskusi merupakan hal yang tidak biasa bagi saya. Oleh karena itu saya merasa aneh sewaktu pertama kali diundang untuk mengikuti Forum Group Discussion oleh seseorang yang tidak menambahkan embel-embel institusi atau apapun di belakang namanya. Toh pada akhirnya saya tetap datang karena tertarik dengan tema diskusinya yang berjudul Proporsi Nilai pada Makanan Ringan.
Bertempat di restoran Sere Manis, saya datang pas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sampai di tempat, saya langsung diarahkan untuk masuk ke dalam private room. Di dalam ruangan tersebut telah hadir beberapa orang lain yang merupakan MC dan notulen acara diskusi tersebut serta satu orang peserta lainnya. Ternyata pada acara malam itu, mereka hanya mengundang 8 orang peserta yang setelah ditunggu hingga jam 7 malam, ke enam peserta lainnya tidak datang. =(
Tidak menunggu lama, mereka langsung memulai acara FGD ini dengan langsung menghadirkan beberapa menu breakfast. Saya dan Tara diminta untuk mengamati hidangan tersebut hingga sedetail-detailnya. Dari mulai penampilan, aroma, tekstur, sampai ke rasa. Bahkan kami ditanyakan dari bahan apa menu itu terbuat. Setelah menu breakfast, kami kembali disuguhi oleh aneka Carrot Cake, Cheesecake, Bublanina, hingga berbagai jenis cookies yang harus kami amati dan tentu saja cicipi satu persatu.
Selain itu, kami juga ditanyakan mengenai preferensi kami dalam memilih tempat hang out dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar selera, snack, pola hidup, kesehatan dan cake shop. Saya sungguh sangat menikmati acara tersebut sehingga tidak terasa sudah tiga setengah jam berlalu. Tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul 10.30 saat mereka mengumumkan bahwa diskusi malam itu telah selesai.
Setelah itu, barulah kami diberitahu bahwa sebenarnya penyelenggara acara tersebut adalah Marketing Promotion dari The Baked Goods yang sedang mengadakan riset mengenai apa yang sebenarnya menjadi alasan kuat untuk seorang customer membeli sebuah produk makanan sehat.
Seperti yang kita tahu bahwa The Baked Goods memang mengklaim bahwa semua produknya bebas dari ekstrak, pewarna, pengawet dan pemanis buatan. Dan ternyata mereka benar-benar ingin konsisten dengan tag yang mereka usung. Dari situ pula saya tahu alasan mereka tidak menyediakan the It cake, Red Velvet, yang memang menggunakan pewarna dalam jumlah yang banyak dan tidak dapat disubstitusi dengan bahan-bahan alami yang lebih menyehatkan.
Sembari menunggu pesanan makan malam kami dari deretan menu Seremanis, obrolan mengenai kontradiksi antara tren hidup sehat dan cake shop pun terus bergulir. Tiba-tiba masuklah Erwin Parengkuan ke dalam ruangan dengan membawa goodie bag yang berisi Bublanina dan dua toples cookies untuk saya dan Tara. Malam yang menyenangkan itu ditutup dengan gurihnya kuah santan dari Soto Tangkar Sere Manis yang berisi daging iga yang empuk dan dipadukan dengan nasi merah.
Saya pribadi ternyata menyukai hampir seluruh produk The Baked Goods karena rasa manisnya tidak ada yang berlebihan. Saya sangat gembira mengingat banyaknya ilmu dan pemikiran-pemikiran baru yang saya dapat dalam diskusi malam itu. Satu yang saya ingat waktu itu adalah ketika Tara memberikan sebuah kutipan bahwa "jangan hanya mengikuti tren yang ada di tengah masyarakat, namun bagaimana kita bisa berpartisipasi untuk ikut mendidik masyarakat." Dengan kata lain, The Baked Goods harus tetap konsisten dengan apa yang menjadi prinsip mereka dalam menghadirkan setiap macam menu dengan keyakinan bahwa mereka juga ikut membantu meningkatkan awareness masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat dengan menghadirkan berbagai macam makanan ringan, cake dan dessert yang variatif dan juga lezat dengan harga yang masih terjangkau.
Good luck The Baked Goods! =)
PS : untuk kali ini tidak ada foto-foto makanan yang saya sertakan, mengingat beberapa di antaranya merupakan menu yang belum diluncurkan oleh The Baked Goods.
I guess I'm just lucky at this time.
Tiba-tiba dari kantor datang invitation untuk datang ke acara Opening New Harvest Senopati. Tentu saja saya langsung menerimanya dengan suka cita. Harvest memang baru saja merelokasi outletnya yang berada di jalan Senopati. Lokasi barunya tidak jauh dari tempat semula, namun dengan outlet yang lebih besar dan elegan.
Malam itu Harvest memperkenalkan sejumlah produk-produk terbarunya antara lain aneka cake, cookies, macaroon, dan beberapa makanan kecil lain seperti macaroon, lamington, chocolate mini tart, dan masih banyak lagi yang semuanya merupakan hasil kreasi dari Chef Eric Gouteyron. produk-produk baru ini hanya dapat ditemui di outlet Harvest Senopati. Bahkan untuk cookiesnya, kita dapat membeli satuan yang dibandrol dengan harga 3K-4K.
![]() |
| Searah jarum jam : gelato, cake, chocolate pralines, ice cream cake |
Bersamaan dengan dibukanya outlet baru ini, The Harvest juga sekaligus mengumumkan bahwa outlet Senopati akan menjadi outlet utama (flagship store) untuk the Harvest sekaligus pusat call centre untuk pemesanan dan layanan pesan antar The Harvest. Di waktu yang bersamaan, Mike Lewis juga sekaligus diperkenalkan sebagai brand ambassador dari salah satu cake shop besar ini.
Yang menarik adalah bahwa the Harvest berkolaborasi dengan Tropicana Slim untuk menciptakan beberapa produk cake yang ditujukan untuk konsumennya yang menganut pola hidup sehat. Produk yang memiliki tag ‘Delightful Less Sugar Cakes’ ini memiliki dua varian yaitu Caprice Chocolat dan Dame Blanche.
![]() |
| Chocolate jelly and chocolate mousse over the cake. Real heaven for chocolate lovers! |
![]() |
| Forget the name, some cake with butterscotch sauce. The sauce tasted like alpenliebe candy. =) |
Acara kemudian ditutup oleh dinner dengan menu dari Negev (karena konsepnya standing party, jadi sayang sekali saya tidak sempat mengambil foto-fotonya) serta food tasting aneka produk Harvest yang didominasi oleh cake. Semus cakenya tampak jelas menggiurkan, sayangnya saya tidak bisa mencoba semua varian yang ditawarkan karena terlalu kenyang.
The Harvest
Jl. senopati raya no. 47 Jakarta Selatan. Telp : 021-5289 2424























































